TEKNOLOGI KESEJAHTERAAN

Hari-hari menjelang pemilu membuat banyak orang belajar memahami latar belakang dan pikiran konseptual apa yang akan diupayakan para calon dalam kurun waktu jabatannya. Tak pelak saya harus berkutat mempelajari angin yang berhembus sekitar ideologi ekonomi. Sebagai orang awam pengertian ekonomi apalagi ideologinya, saya sungguh harus menyisihkan waktu dan pikiran untuk mencernanya. Istilah ekonomi kerakyatan dan neoliberalism begitu mencuat dan dibahas di berbagai media TV, koran, blog dan email. Menyenangkan sekali promosi ekonomi ini, karena yang dibahas berupa kajian filosofis, histori penerapan serta hasil-hasil yang hanya dapat dimengerti perwujudannya oleh pikiran bukan oleh perasaan. Masalah Ekonomi ini sangat baik untuk menyederhanakan fokus berita atau debat agar tidak muncul masalah multidemensi yang membingungkan masyarakat. Namun sebenarnya secara realita, siapapun pemimpinnya, akan menghadapi semua risiko atau tantangan dari segala penjuru.

Tantangan Bagi CEO

Bila yang berada pada posisi CEO sebuah perusahaan berorientasi profit, berdasarkan kajian manajemen risiko (COSO 2004), saya menemukan lebih dari 260 macam risiko yang dihadapi. Karena pada tulisan ini tidak membahas risiko, istilah risiko diubah menjadi tantangan yang saya anggap dapat lebih menyemangati. Secara garis besar, tantangan utama tersebut meliputi : 1. Lingkungan Regulasi dan Penegakannya dari kepentingan Pemerintah, 2. Kepercayaan, Nilai dan Dividen dari kepentingan Pemegang Saham 3. Tuntutan pasar, yakni kepentingan pelanggan dan kebutuhannya, 3. Ketersediaan Bahan Baku, Jasa dan kepentingan Pemasok 4. Jasa Produksi dan kepentingan karyawan 5. Tantangan dari Pesaing (Competitor), 6. Tantangan dari kepentingan Partner dan kolaborator 7. Tantangan dari Sistem atau Peraturan dan Penegakannya yang dibuat oleh perusahaan sendiri. 8. Kemampuan dan Kesehatan diri menghadapi semua tantangan tersebut.

Delapan Tantangan Utama tersebut saya ambil 5 dari M. Porter (5 Porter’s Forces), 2 dari hasil survey Ernst & Young dan 1 tambahan dari saya. Sementara Kesempatan atau Peluang dari CEO menjalani pekerjaannya, diberikan kepada masing-masing pembaca termasuk CEO untuk melihatnya. Sebagai CEO, apakah tahu atau tidak tahu mengenai tantangan ini, adalah tidak begitu penting, yang utama adalah mampu menghadapi semua. Jadi saya tidak perlu meminta CEO mengakui seperti Pak Rizal meminta pengakuan seorang Tokoh untuk mengakui menjalani paham neoliberalism. Ngaku sajalah..

Tantangan Bagi Presiden

Wah, kalau sebagai CEO perusahaan saja mesti menghadapi lebih dari 8 tantangan utama dan lebih dari 260 risiko tantangan yang perlu dihadapi, bagaimana dengan presiden ? Tentunya lebih banyak. Mengatasi semua kepentingan dalam negeri dengan jutaan CEO, puluhan mentri, gubernur, ketua / kepala badan pemerintahan, termasuk lembaga tinggi dan tertinggi negara serta kepentingan Luar Negeri, bukanlah tugas sederhana. Pak Kwik Kian Gie dalam banyak artikelnya mengenai Platform Presiden (3 artikel) mengulas masalah apa saja yang perlu disikapi dan tugas apa yang diemban Presiden periode mendatang. Tentu ini baru satu sisi, yaitu masalah ekonomi dan tatanan perangkat pengaturan. Tantangan lain untuk memberikan kesejahteraan dari banyak sisi lain belum begitu dikupas

Kebutuhan Rakyat

Tidak luput dari ingatan mengenai kebutuhan dasar manusia dan pencapaiannya yang diungkap Maslow, Negara perlu memberikan yang terbaik buat bangsanya antara lain fasilitas pemicu semangat dan jaminan hidup dan kehidupan yang lebih baik. Fasilitas yang diperlukan untuk rakyat ini dapat diruntut sejenak saja dari kebutuhan dasar kita hidup yaitu : Fasilitas 1. KESEHATAN dimana a) udara, air, minuman dan makanan tersedia cukup dan bersih b) Agama, kerohanian, psikologis c) Sanitasi Lingkungan & Olah Raga 2. KEAMANAN dimana memerlukan fasilitas a) perangkat keamanan, hukum, keadilan dan b) jaminan Sosial, pekerjaan dan organisasi sosial ditumbuh kembangkan 3. KESEJAHTERAAN yang memerlukan fasilitas a) Pasar, Jalan, Transport, RS, Gas, Air, Listrik, komunikasi dan Infrastruktur lain sebagaimana diundangkan, b) Industri, Permodalan, Pendidikan dan Training yang memadai. Dan kebutuhan rakyat lain yang memerlukan fasilitas menurut saya adalah 4. KEBEBASAN BERPENDAPAT DAN PENGHARGAAN antara lain a) Fasilitas Komunikasi, Penyiaran & Dialog b) Fasilitas Teknologi, Riset & Kompetisi c) Fasilitas Seni, Sejarah & Budaya d) Fasilitas Forum Diksusi, Penemuan & Filsafat.

Teknologi Kesejahteraan

Dari sekian panjang tulisan, saya hanya memerlukan beberapa waktu untuk mengingat semuanya, tapi yang terkait judul tulisan yaitu Teknologi Kesejahteraan tidak begitu muncul, mengapa ?. Perangkat Hukum, Ekonomi, Budaya dan Filsafat termasuk ketatanegaraan adalah olah pikir yang banyak dikupas secara filosofis. Sebaliknya Teknologi Kesejahteraan adalah perangkat teknologi yang menopang berjalannya Kesejahteraan sekaligus alat mencapai Kesejateraan, sangat sedikit dibahas dan baru kali ini dimunculkan. Bila di jaman dahulu, komunikasi masa dilakukan dengan teriakan keras dan suara besar, sekarang menggunakan sms, imel dan blog yang diakses Blackberry atau perangkat teknologi lain untuk melakukannya. Bila dulu kriteria sejahtera adalah sekian persen penduduk mendapat sandang, pangan, papan dan berpendapatan sekian rupiah, barangkali dengan Teknologi Kesejahteraan ini kriterianya ditambah dengan “dapat berkomunikasi melalui Internet dan ngeblog”. Jadi, yaitu tadi, Teknologi kesejahteraan adalah alat atau perangkat bantu teknologi mencapai kesejahteraan sekaligus menopang (kriteria) kesejahteraan itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: