Diabetes (1)

Tulisan ini memberikan informasi berkaitan dengan sejarah dan risiko diabetes. Perspektif sejarah mengantarkan anda pada pemahaman bahwa diabetes merupakan tantangan lama ribuan medisi yang sampai kini masih belum terjawab. Alih-alih kini diabetes semakin marak diberitakan dan semakin banyak komunitas penderitanya. Acuan informasi yang menjadi bahan ramuan utama tulisan pada bagian bawah dimaksudkan agar dapat digunakan sebagai bahan kajian atau penelusuran anda selanjutnya. Bagi Pembaca note di facebook, klik versi updated tulisan ini.

Kadangkala kita berpretensi, khawatir dan takut membaca risiko penyakit ini. Namun percayalah bahwa semakin anda mengetahui risiko yang dihadapi semakin anda berhati-hati dan tertantang untuk melawannya sehingga berujung pada perbaikan hidup anda di kemudian hari. Pengetahuan ini baik bagi anda yang tidak sedang menderita, anda yang mempunyai keturunan tapi masih sehat dan bagi anda yang sedang menderita diabetes. Tulisan ini memotivasi anda agar tetap sehat bersama diabetes atau bahkan sembuh tanpa kambuh.

Sejarah (1,1)

Dari perspektif sejarah, sebenarnya para dokter atau dukun atau lebih tepat pemerhati kesehatan zaman duhulu telah mengamati perihal diabetes ini lebih dari ribuan tahun yang lalu. Beberapa pemerhati tersebut mengetahui “penyakit” kronis ini diawali dengan keluhan sering timbulnya rasa haus (polidipsia) dan kencing berlebihan (poliuria). Berdasarkan tulisan yang dikutip dari situs http://www.ncbi.nlm.nih.gov, orang hindu ribuan tahun lalu mendokumentasikan bahwa salah satu tanda penyakit yang kini disebut sebagai “diabetes” adalah lalat dan semut hitam yang mengerumuni air seni penderita. Kencing seperti itu kini disebut glikosuria. Dukun India pada 400 th. sm (sebelum masehi) Sushruta menganggap air seni yang berasa manis sebagai penanda utama diagnosis penyakit Diabetes. Rasa manis pada air seni tersebut berasal dari gula. Gula atau selanjutnya kita sebut glukosa, kini dapat langsung dimonitor dari darah. Gula darah yang dapat diukur melalui bantuan alat modern itu dikenal juga sebagai dextrose, bentuk gula sederhana atau monosakarida.

Istilah diabetes mulai digunakan sejak sekitar 250 sm. dari kata yunani yang berarti “to syphon” atau penerusan atau pembuangan berbentuk cairan. Dokter Yunani Aretaeus mengiranya sebagai pencairan dari otot dan tulang menjadi air seni. Istilah diabetes mellitus diperkenalkan oleh Thomas Willis th. 1674, dokter pribadi Raja Charles II, diartikan sebagai “kencing madu” atau kencing manis. Kini, diabetes sebagai akar istilah yang dapat diartikan sebagai “kelainan metabolisme terkait pengaturan-keseimbangan-produksi dan efektivitas hormon pada tubuh pengidapnya”.  Istilah ini kemudian berkembang seperti Diabetes mellitus, diabetes insipidus, diabetes bronze, diabetes kimia, diabetes lipoatropik. diabetes gestational (kehamilan), diabetes juvenil dan lain lain.

Risiko Komplikasi Diabetes (1.2)

Risiko yang dihadapi penderita diabetes (diabetesi) tergantung dari jenis diabetesnya. Untuk diabetes melitus tipe 1 dimana sel beta pancrease rusak dan membutuhkan insulin dari luar (eksogen), risikonya sudah terjadi. Untuk itu, di sini hanya dibahas risiko diabetes melitus tipe 2 dimana  sel beta masih berfungsi dan risiko belum terjadi dan dapat diusahakan pengendaliannya. Gejala umum yang terukur baru berupa adanya perbedaan pola dan ukuran kadar gula darah dibanding orang normal.

Diabetes adalah salah satu dari penyakit degeneratif yang dalam penanganannya – baik memakai insulin injeksi, obat-obatan, diet atau cukup dengan penambahan aktivitas gerak saja – memerlukan ketabahan dan kesabaran karena harus terus menerus dengan waktu lama bahkan seumur hidup!. Menurut catatan, cukup banyak penderita diabetes mengontrol kadar gula darahnya sampai usia 70 bahkan 80 tahun ! (nenek penulis) sebelum akhirnya tidak mampu lagi mempertahankannya karena melemahnya semangat dan usia.

Diabetes meningkatkan risiko komplikasi Penyakit Jantung dan Pembuluh (PJP), antara lain hipertensi dan infark jantung. Bila tidak atau kurang tepat diobati, kadar glukosa yang terus tinggi lambat-laun dapat terjadi pertumbuhan bakteri dalam aliran darah, hiperlipidemia (kolesterol tinggi) dan trigeliserida darah tinggi sehingga memicu komplikasi makrovaskuler antara lain gangguan kardiovaskuler (jantung), neurovaskuler (saraf) dan peripheralvascular (perifer) serius.

Risiko ini dapat diturunkan dengan mempertahankan kadar gula darah sedatar mungkin, artinya tanpa puncak-puncak tajam, yang timbul setelah makan banyak (karbohidrat). Selain itu, karena erat berkaitan dengan metabolisme lemak (dislipidemia) maka perlu juga menjaga kadar lemak darah seperti kolesterol  total, HDL, LDL, VLDL dan kadar trigliserida.

Hipoglikemia (1.3)

Definisi dan Gejala. Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah kurang dari 4 mmol/l atau 70 mg/dl. Bila kadar glukosa menurun di bawah k.l. 3,3 mmol/l timbul gejala ‘otonom’ akibat stimulasi dari susunan saraf adrenerg. Antara lain rasa lapar dan kesemutan sekitar mulut dan lidah, berkeringat, gemetar, muka pucat dan jantung berdebar-debar. Bila kadar gula turun lebih lanjut di bawah 2,8 mmol/l (50 mg/dl) akan terjadi gejala khas akibat kekurangan glukosa di otak. Gangguan yang terpenting adalah konsentrasi dan penglihatan, pusing, termangu-mangu, mengantuk, kemudian bahkan stupor dan koma.

Sebab Musabab. Hipoglikemia adalah komplikasi yang paling lazim terjadi pada terapi dengan insulin, karena kadar gula darah turun terlalu drastis. Hal ini lebih jarang terjadi dengan pengobatan antidiabetika oral. Keadaan berbahaya ini dapat disebabkan oleh :

  1. Hiperinsulin atau pemakaian insulin eksogen (dari luar) berlebih,
  2. Sekresi insulin endogen (dari tubuh sendiri) berlebih,
  3. Overdosis obat baik tunggal atau dengan komplemennya (seperti obat dari golongan sulfonilurea),
  4. Kurang atau tidak makan sesudah injeksi insulin / minum obat,
  5. Absorpsi (penyerapan) insulin yang lebih lancar berhubung lokasi injeksi berlainan, Lokasi injeksi juga menentukan kecepatan resorpsi, misalnya penyuntikan di perut dan lengan atas masing-masing 2 dan 2,5 kali lebih cepat daripada injeksi di paha.
  6. Aktifitas fisik atau olah-raga berlebih. Kontraksi otot dapat menyebabkan glukosa lebih banyak masuk ke dalam sel. Jadi suatu kerja fisik akan memperkuat efek insulin, sehingga mudah terjadi hipoglikemia.

Hipoglikemia dapat juga disebabkan oleh kurang tepatnya sekresi TSH (Thyroid stimulating hormon) yang mengendalikan pengeluaran (sekresi) thyroid. Kurangnya sekresi hormon tiroid yang bekerja sebagai pengendali metabolisme gula, lemak dan protein dapat mempengaruhi kadar gula darah.  …

Itulah sebabnya seorang penderita diabetes melitus (yang bekerja lebih berat daripada biasanya), harus mendapat ekstra kalori serta dosis insulin yang lebih rendah. Bila hipoglikemia ringan (60-70 mg/dl) sering terjadi dan tidak disadari maka kebutuhan otak dan saraf akan glukosa kurang dapat dipenuhi.

Tindakan. Hipoglikemia ringan sebaiknya diatasi dengan segera memberikan gula, perasan jeruk, sirop kental atau makanan apapun. Hipoglikemia hebat dengan berkurangnya kesadaran atau pingsan,  sangat berbahaya, karena bisa mengakibatkan kerusakan otak. Oleh karena itu harus segera diobati dengan injeksi i.v. larutan glukosa 40-50% atau i.m. glukagon 1 mg; penderita akan pulih kesadarannya sesudah 10-15 menit. Berhubung dengan bahaya ini, bagi daibetesi dengan kendali insulin, dibetesi dengan obat antidiabet atau yang beraktifitas fisik berat sangat dianjurkan selalu membawa beberapa gumpal gula untuk keadaan darurat.

Hiperglikemia (1,4)

Definisi dan Gejala. Hiperglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah lebih dari ambang batas ginjal menyaring gula yaitu 10 mmol/l atau 180 mg/dl dan merupakan tanda (gejala klinis) diabetes. Gejala yang dirasakan pengidapnya hampir tidak ada kecuali bila pengidap berlatih untuk merasakannya. Gejala yang terlihat sebelum manifes dapat ditandai oleh adanya semut yang mengerumun pada air seni dan mudah ngantuk. Setelah manifes, gejala muncul dimulai dengan terasa mudah haus, sering kencing, minum, makan, gatal (pruritus), berkeringat dll. Pada Jangka Panjang penderita mengalami berat badan menurun, gangren dan mudah merasa lelah.

Sebenarnya hiperglikemianya sendiri relatif tidak berbahaya, kecuali bila hebat sekali hingga darah menjadi hiperosmotik terhadap cairan intrasel. Yang nyata berbahaya adalah glikosuria yang timbul, karena glukosa bersifat diuretik osmotik, sehingga diuresis sangat bertambah disertai hilangnya berbagai macam elektrolit. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya dehidrasi dan hilangnya elektrolit pada seorang diabetesi yang tidak diobati.

Hiperglikemia bila berkepanjangan dan tidak dikontrol dengan baik, dapat menyebabkan darah menjadi lahan subur bagi bakteri. Oleh karenanya diabetesi yang mengalami luka atau borok sukar sembuh walaupun luka tersebut diisolasi dari udara terbuka. Kondisi “luka” ini dapat terjadi diberbagai bagian dalam tubuh yang lemah pertahanannya terhadap bakteri.

Sebab Musabab. Pada diabetesi, hiperglikemia umumnya terjadi setengah sampai satu jam setelah makan makanan dengan kadar karbohidrat tinggi. Kelainannya mungkin karena :

  1. Produksi, efektifitas, pemicu atau zat pembentuk insulin dari pancrease terganggu. Hormon insulin ini berfungsi sebagai “kunci” yang memungkinkan glukosa masuk ke dalam sel tujuan untuk dimetabolisir (dibakar) dan dimanfaatkan sebagai sumber energi. Bila kekurangan atau tidak efektif maka glukosa bertumpuk di dalam darah menimbulkan hiperglikemia dan akhirnya glukosa itu diekskresikan lewat kemih tanpa digunakan (glikosuria).
  2. Kepekaan reseptor sel bagi insulin menurun (resistensi insulin).
  3. Lipogenesis (proses pembentukan lemak dalam tubuh) terganggu, sehingga 30—40% glukosa yang dalam keadaan normal diubah menjadi lemak, tetap dalam bentuk glukosa sehingga hiperglikemia yang hebat selalu terjadi sesudah makan.
  4. Memakai obat a/l. : Glukokortikoid, hormon tiroid, asam nikotinat (niasin Vit. B3), pentamidin, vacor, tiazid, dilanting, interferon dll. yang berinteraksi meninggikan kadar gula darah.
  5. Produksi Gula endogen (berasal dari tubuh sendiri) dari hati berlebih yang mungkin dipicu oleh hormon glukagon, sehingga tidak mampu diimbangi penyerapan glukosanya oleh jumlah normal insulin.

Bila Kadar glukosa tetap tinggi terjadi 3 jam setelah makan atau puasa maka kemungkinan sebabnya adalah :

  1. Sel-sel-beta mengalami penyusutan serta penumpukan amiloid (lemak) di sekitarnya sehinga produksi Insulin kurang.
  2. Kurang gerak dan tidak Diet sehingga tidak cukup dikendalikan dengan injeksi insulin atau obat-obat hipoglikemia.
  3. Berlebihnya produksi / sekresi zat pelawan hipoglikemia secara endogen (berasal dari tubuh sendiri) antara lain : Hormon Pertumbuhan, glukagon, epinefrin (adrenalin) dsb.
  4. Stress bekepanjangan dan reaksi emosi (takut, marah, cemas) dapat mengakibatkan berlebihnya sekresi ACTH (Adreno-Cortico-Tropin Hormone) yang dipicu oleh melalui saraf aferen yang menuju hipotalamus. (Lihat juga tulisan Kortisol dan Stress dimana Stres memicu glukokortikoid)
  5. Hipertiroid, yaitu berlebihnya hormon tiroksin yang mempercepat absorpsi karbohidrat oleh usus dan sekresi epinefrin bertambah sehingga glikogen hati dan otot rangka berkurang karena menjadi glukosa.

Tindakan. Hiperglikemia merupakan tanda diabetes, kejadiannya dapat berulang, oleh karenanya diperlukan tindakan jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendeknya adalah dengan pemberian insulin atau obat hipoglikemik (penurun glukosa). Jangka panjangnya adalah diet dengan menghindari makanan dan obat-obatan yang dapat meninggikan glukosa darah, aktifitas gerak cukup, tidur cukup dan bila perlu meminum obat yang tepat melalui proses pengambilan data glukosa berulang dan diagnosis. Pengobatan yang salah dapat mengakibatkan kondisi bertambah parah.

Diabetes umumnya timbul karena kelebihan gizi yang dimakan dibandingkan aktivitas geraknya disertai stres. Inilah yang menjadi pemicu utama timbulnya ketidakseimbangan metabolisme karbohidrat dan lemak.

Kondisi ideal yang dikehendaki bagi diabetesi :

Parameter

Angka Ideal

Kadar Glukosa Darah Puasa

80 – 120 mg/dl

Kadar Glukosa Plasma Puasa

90 – 130 mg/dl

Kadar Glukosa Darah saat Tidur

100 – 140 mg/dl

Kadar Glukosa Plasma saat Tidur

110-150 mg/dl

Kadar Insulin

< 7 %

Kadar HbA1c

< 7 (Usia <50 th)

< 8 (50 <Usia <60 th)

< 9 (Usia >60 th)

Kadar Kolesterol HDL

> 45 mg/dl (Pria),

> 55 mg/dl (Wanita)

Kadar Kolesterol LDL

< 145 mg/dl

Kadar Trigliserida

< 200 mg/dl

Tekanan Darah Sistolik

<130 mmHg

Tekanan Darah Diastolik

> 70 mm Hg

Acuan (1,5)

Tulisan ini selain mengacu pada pengalaman penulis, juga merupakan ramuan informasi yang diperoleh dari berbagai tulisan pada web, koran, majalah, atau buku mengenai diabetes. Acuan utama tersebut di bawah ini.

  1. Diabetes, www.ncbi.nlm.nih.gov dan berbagai linknya. 2004
  2. Pharmaceutical Care untuk penyakit Diabetes Mellitus, Direktorat Bina Farmasi Komunitas Klinik, Depkes RI. 2005.
  3. Oral Hypoglichemic Agents, www.diabetesindia.com dan link. 2006
  4. Obat-Obat Penting, oleh Drs. Tan Hoan Tjay Apt. dan Drs. Kirana Rahardja Apt., PT Elex Media Komputindo.  Edisi ke enam, 2007.
  5. Farmakologi dan Terapi, Oleh Sulistia dkk., Fakultas Kedokteran UI., Edisi 2, 1980
  6. Ilmu Penyakit Dalam, kumpulan tulisan, Jilid III Edisi IV.

1 Komentar

  1. Dahroji said,

    18/10/2009 pada 00:37

    Tulisan ini merupakan rangkaian tulisan Diabetes (1) diabetes (2), diabetes (3), diabetes (4) serta kortisol (1), kortisol (2) dan kolesterol (1)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: