Konsep Pikir “Bagaimana”

Pernah dalam suatu kurun waktu saya membaca buku psikologi dan manajemen yang membahas pertanyaan apa yang sebaiknya diajukan seorang atasan terhadap bawahan. Sederhana, menurut sebagian besar dari mereka, atasan hanya perlu mengajukan pertanyaan : apa, mengapa dan kapan. Yang tersirat tapi tidak tersurat adalah pertanyaan apa yang sebaiknya diajukan seorang bawahan terhadap atasan ?. Secara logis ini akan memancing kelengkapan kata tanya yang lain seperti : Berapa, bagaimana dan dimana itu dilaksanakan. Pada keseharian kerja justru pertanyaan seperti “berapa” dan “bagaimana” dikembalikan kepada bawahan untuk menjawabnya, terutama agar “bagaimana”nya sebanyak mungkin sebagai alternatif sementara “berapa”nya sesedikit mungkin dimana masalah tetap dapat selesai.

Seorang manajemen hendaknya mengetahui “apa” yang dipermasalahkan. Buku panduan tadi mengulas betapa pentingnya sebuah “apa” dalam suatu konteks masalah. Akan terjadi bias yang signifikan bila pada satu diskusi tidak jelas “apa”nya. “Apa” dalam konteks permasalahan dapat saja berupa Subyek, Obyek atau Predikat.

Menurut saya, pertanyaan “mengapa” dalam konteks permasalahan nyata masih mengandung kontroversi yang perlu dikaji mendalam. Pertanyaan “mengapa” pada dasarnya mencari suatu jawaban terhadap akar penyebab terjadinya permasalahan. Namun pada kehidupan sehari-hari, ini tidak praktis, alih-alih mendapat jawaban ke arah penyelesaian, malah mengakibatkan “Circular” atau “looping” yang menambah ruwet permasalahan. Ini terjadi karena anda berkutat pada alasan-alasan dengan banyak cabang. Sering juga terjadi, pada saat anda bersepakat terhadap suatu penyebab utama atau “Causa Prima” anda terhadang lagi pada penyelesaian permasalahan yang diawali dengan pertanyaan “bagaimana”. Metoda atau cara bagaimana suatu permasalahan diselesaikan, pada banyak kasus, tidak terkait langsung pada akar penyebab, namun lebih banyak pada “apa”nya dan “tujuan”nya.

Sebagai contoh, bila anda mendapatkan komputer anda rusak. Akan sangat mengherankan bila anda perlu menyediakan alasan nyata yang jadi sebab kerusakan tersebut. Dapat saja anda memberikan alasan :”karena tegangan power suplay terlalu tinggi atau rendah” atau “karena masa pakainya sudah terlampaui” atau alasan lain. Mengapa saya sebut mengherankan, karena pengguna komputer dalam hal ini bertindak sebagai “trouble shooter”. Akan lebih menyelesaikan masalah bila anda membawa komputer tersebut ke bengkel komputer. Jadi pada persoalan untuk tujuan perbaikan, alih-alih bertanya mengapa komputer itu rusak, akan lebih baik bila bertanya bagaimana komputer tersebut segera diperbaiki sehingga dapat normal kembali.

Persoalan ini analog dengan apabila anda mendapatkan diri anda sakit, bukannya pergi ke dokter tapi mendiagnosis sendiri kemudian membeli obat langsung ke Apotik. Sistem normal yang ada dalam kenyataan adalah anda memanggil atau pergi ke dokter sebagai penanggungjawab diagnosis penyakit sehingga diperoleh “apa” sakitnya dan “apa” obatnya, kemudian baru membeli obat di Apotik. Kenyataan ini seharusnya menuntun kita pada pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah “bagaimana”. Bagaimana sebuah permasalahan itu diselesaikan. Dan lebih penting lagi, pertanyaan bagaimana biasanya diajukan oleh seseorang yang mempunyai “tujuan” atau “suatu kehendak” menyelesaikan masalah.

Seorang dokterpun tidak akan mencari tahu dari anda “mengapa sakit” atau “mengapa timbul tanda2 sakit seperti itu”. Sebagai profesional, dokter mestilah mengacu pada sistem “bagaimana” sakit pasien disembuhkan. Bahwa untuk mendiagnosis penyakit pasien perlu data dari bagian lain (radiologist misalnya), itu adalah salah satu dari jawaban atas pertanyaan “bagaimana” mendapatkan data agar penyakit pasien dapat disembuhkan secara tuntas. Sebuah Sistem dan pengkotakan tanggungjawab dibuat juga mengacu pada akar “bagaimana” sebuah permasalahan diselesaikan dengan keterbatasan yang ada.

Berikutnya adalah pertanyaan “Kapan”. Pertanyaan ini untuk membangun kepastian terhadap jalannya proses penyelesaian. Kita selalu menghadapi permasalahan dengan keterbatasan akan sumberdaya dan ketidakpastian masa depan. Bila pertanyaan “Bagaimana” membantu mencapai tujuan penyelesaian terhadap keterbatasan, maka pertanyaan “kapan” ini membantu mengurangi beban ketidakpastian yang ditanggung dari pihak pihak yang menghadapi masalah.

Sebaliknya, pertanyaan “mengapa” perlu ditempatkan pada proses belajar dan pemahaman. Titik ekstrim dari pertanyaan ini akan bertemu dengan “Causa Prima” tadi, yaitu “Tuhan berada dibalik semua kejadian”. Lalu apa yang harus dilakukan ?. Sebagai contoh, bila saya lanjutkan pertanyaan mengapa pada masalah komputer rusak barangkali akan didapati dialog sbb. (walaupun ini tidak mungkin terjadi..) :

Bos             : Mengapa komputer anda rusak ?
Pengguna    : Tegangan Power Suplay terlalu rendah.
Bos             : Mengapa Power Suplay terlalu rendah ?
Pengguna    : Tegangan trafo menurun.
Bos             : Mengapa tegangan trafo menurun ?
Pengguna    : Isolasi belitan dan minyak trafo menurun.
Bos             : Mengapa Isolasi belitan dan minyak trafo menurun?
Pengguna    : Cuaca panas dan lembab.
Bos             : Mengapa Cuaca panas dan lembab ?
Pengguna    : Tuhan mengatur demikian.
Bos             : Mari berdoa…

Dialog di atas hanya rekaan, sebenarnya saya sendiri sangat setuju bahwa Doa memang tetap perlu dipanjatkan dalam menghadapi berbagai masalah dan pertanyaan “mengapa” tetap dapat diajukan sampai batas tertentu, karena kita sadar bahwa kita terbatas.

Bagi pembaca note atau catatan di FB, untuk melihat updatenya silakan klik dan lihat Bagaimana.., sebaliknya bagi pembaca blog yang ingin berkenalan atau melihat FB saya silakan klik Note..

%d blogger menyukai ini: