PSIKOSOMATIKA

Minggu kemarin dan beberapa minggu ke depan adalah musim pergantian pejabat dan pensiun dari orang-orang yang telah melewati puncak produktivitas. Peristiwa tersebut dapat memicu mereka yang pensiun mengidap stress, power syndrome dsb. Hari ini saya tertarik menuliskan kembali tulisan di harian kompas terkait peristiwa memasuki pensiun. Mudah-mudahan mereka dan kita (pembaca) dapat tersenyum dan membatin “aku sudah siap”. Tulisan ini dikumpulkan terutama untuk mengingatkan diri penulis, namun mungkin anda juga dapat memperoleh manfaat darinya. Selamat membaca.

PSIKOSOMATIKA

Kompas, Minggu, 25 Oktober 2009 | oleh : Sawitri Supardi Sadarjoen psikolog
divider

Setiap organisme, termasuk manusia, dalam kehidupannya cenderung mem pertahankan keutuhan menyeluruh sehingga homeostasis (keseimbangan seluruh sistem tubuh) terjaga optimal. Untuk itu, terdapat tiga tingkat fungsi defensif manusia yang terintegrasi menyeluruh, yaitu tingkat aspek fisiologis, psikologis, dan sosiologis. Tujuan kerja integratif ketiga tingkat ini adalah terjaganya keseimbangan fungsional yang tetap memberi peluang optimal bagi tumbuh kembang manusia. Tekanan fisik atau psikis yang dirasa membahayakan akan mendapat reaksi penyesuaian terintegrasi dari ketiga fungsi manusia tersebut, demi tercapainya homeostasis antar ketiga fungsi tersebut. Jadi, guna mempertahankan homeostasis hanya dibutuhkan sedikit energi.

Hal lain yang perlu kita simak adalah dalam proses homeostasis bisa saja tekanan yang sebenarnya melulu tekanan psikis akan memaksa fungsi fisiologis dan sosial ikut berpartisipasi. Mengapa? Karena jalinan integratif antarfungsi tersebut juga bersifat resiprokal, artinya saling mengisi dan diisi.

Satu hal yang umum terjadi dalam proses pembentukan reaksi penyesuaian antar tiga tingkat fungsi pertahanan manusia adalah pemanfaatan energi yang dibutuhkan sangat ekonomis, hanya sedikit kebutuhan energi yang dimanfaatkan reaksi pertahanan integratif ini. Kondisi semacam ini disebut psikosomatika yang artinya tekanan psikis mendapat penyeimbang melalui gejala fisik.

Kasus

KS (51), anak ketiga dari delapan bersaudara, berkeluarga dengan empat anak yang masih di bawah usia remaja. Selama sekitar tiga bulan KS mengeluh sering diliputi rasa gelisah, cemas tidak menentu, dan tidak nyaman. Bila dibiarkan, kaki terasa dingin dan lutut bergetar. Keluhan itu muncul setelah ia mendapat perawatan lima hari di rumah sakit karena terserang demam berdarah.

KS sudah beberapa kali konsultasi kepada dokter dan melalui berbagai pemeriksaan laboratorium klinis. Menurut dokter, tidak terdapat gangguan fungsi organ tubuh yang relevan dengan keluhannya sehingga dokter memberi obat penenang dan obat tidur. Tetapi, KS tetap merasa kurang tenang dan tidak bisa tidur nyenyak. KS adalah salah satu konsultan dalam perusahaan keluarga yang cukup mapan.

Hasil pemeriksaan psikologi menunjukkan beberapa kecenderungan berikut:

KS seorang yang menuntut perhatian lingkungan yang tinggi dengan sikap mental kurang tangguh dan mudah menyerah. Daya bangkitnya rendah, tetapi banyak ide prestasi terlampau ambisius. Tampaknya ada kebutuhan kuat memiliki peran sosial dominan serta tampil mengemuka, tetapi KS tidak memiliki peluang sosial cukup untuk memuaskan kebutuhan tersebut.

Analisis

Daya bangkit rendah dan sikap mental kurang tangguh mendorong KS menyerah pada keadaan. Konflik internal psikis, berawal dari ide ambisius yang tidak terealisasi, di satu sisi dan keinginan mendapat peran dominan mencuat secara sosial mengakibatkan meningkatnya kecemasan berlanjut yang tidak teratasi.

Tekanan tersebut sebenarnya melulu psikis yang membuahkan kekecewaan mendalam sehingga berkembanglah reaksi penyesuaian fisik dalam bentuk keluhan sulit tidur. Perasaan kurang tidur, kurang istirahat, mengimbas pada perasaan melemahnya fungsi lutut dan tungkai yang akhirnya menambah parah reaksi penyesuaian fisik, berupa ujung kaki terasa dingin dan gemetaran serta lemas tidak berdaya.

Reaksi penyesuaian sosial agaknya ditandai keengganan masuk kerja, tiduran di rumah tanpa daya, mengisolasi diri dari pergaulan sosial, dan meningkatnya ketergantungan emosional kepada istri. Lingkup kerja pun memberi toleransi tinggi untuk tidak masuk kantor dan bekerja dengan dalih kenyataan kondisi fisik semakin lemah. Hal tersebut tanpa disadari membuka peluang berkembangnya kondisi fisik pijakan kaki melemah tanpa daya. Jalan menjadi pelan dan seolah tampak akan terjatuh.

Aspek fungsi sosiologis KS meningkatkan kelemahan tampilan fisik KS di hadapan lingkungan kantor dan pergaulannya. Satu hal yang tak disadari KS, ternyata menurunnya kekuatan fisik memberi penguatan sosial untuk terus-menerus meninggalkan tanggung jawab kerja tanpa harus menanggung malu oleh sebutan sebagai ”konsultan tidak bertanggung jawab”. Intonasi suara, durasi dalam percakapan pun terkesan mengikuti kegamangan tampilan sosok fisik, ungkapan verbal secara menyeluruh pun terkesan gamang, suara melemah, butuh waktu semakin panjang untuk mengungkapkan pendapat, dan nada suara semakin lirih, bahkan terkadang hampir tidak terdengar. Yang paling parah, keterpakuan amat sangat pada percakapan tentang kecemasan, kegelisahan, dan tidak bisa tidur.

Dalam pada itu kinerja integratif fungsi pertahanan aspek fisiologis, psikologis, dan sosiologis menjadi lengkap sehingga tanpa dituntut pemanfaatan energi besar KS dapat melepaskan diri dari tanggung jawab dalam kehidupan keluarga dan sosial tanpa rasa malu dan rasa bersalah. Sementara itu, untuk mendapat homeostasis fungsi pertahanan fisiologis, psikis, dan sosial jelas dibutuhkan pemanfaatan energi besar melalui daya bangkit kuat.

Terapi Perilaku Kognitif adalah metoda dalam psikoterapi yang paling tepat untuk membantu KS keluar dari gejala psikosomatisnya.

divider

Pensiun Bukan Berarti Harus Istirahat

Kompas, Minggu, 25 Oktober 2009 | 02:40 WIB. Oleh : Yulia Septhiani dan Budi Suwarna
divider

Menjalani masa pensiun tidaklah mudah. Bukannya bisa menikmati hidup dengan tenang, pensiun justru bisa membuat stres jika tidak ada persiapan matang. Wardiman Djojonegoro (75), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1993-1998, pernah stres pada tahun pertamanya setelah pensiun sebagai menteri. Padahal, Wardiman sudah mempersiapkan diri sebelum pensiun.

”Karena banyak membaca buku tentang keadaan di Amerika Serikat dan Eropa, saya mempersiapkan sekadarnya. Tetapi, saat mulai pensiun, ternyata yang saya bayangkan sebelumnya tentang pensiun berbeda,” kata Wardiman.

Persiapan yang dilakukan adalah menyiapkan tabungan untuk keluarga, memberikan pendidikan kepada anak-anak, dan menerima masukan untuk menikmati hidup dengan melakukan berbagai hobi, seperti membaca buku dan fitness. Di awal pensiun, Wardiman memang banyak mengisi waktu dengan menjalankan hobinya, yaitu fitness dan membaca buku. Dia juga bergabung bersama teman-temannya yang hobi golf.

”Tetapi, sesudah empat-lima kali golf jadi bosan karena tidak ada tujuan yang jelas,” kata Wardiman. Wardiman pun stres. Karena dilampiaskan dengan makan, berat badannya naik 5-6 kilogram dalam setahun dan pernah mencapai 85 kg pada tahun 2001.

Anggota MPR 1992-1997 ini stres karena punya terlalu banyak waktu, tetapi tidak punya program. Dia kehilangan tim yang selama ini membantunya bekerja. Dia juga kehilangan teman-teman dan merasa dilupakan masyarakat. Dalam kondisi inilah Wardiman mulai berubah. ”Saya mulai mengendalikan stres, misalnya dengan belajar pernapasan, lalu menjaga kondisi tubuh sesuai pesan dokter. Berat badan saya turun 22 kg dalam waktu 22 minggu,” kata Wardiman. Selain menjaga kondisi fisik, Wardiman mulai menyibukkan diri. Dia belajar tentang komunikasi di lembaga public speaking Toastmasters, menjadi penasihat di Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), dan berceramah di Universitas Padjadjaran yang menjadi almamaternya.

Tahun 2004, kegiatannya bertambah dengan menjadi Ketua Yayasan Puteri Indonesia. ”Karena senang dengan keindahan, tawaran dari Panitia Puteri Indonesia saya terima,” kata Wardiman yang menilai perempuan itu sebagai keindahan. Dengan berbagai kesibukan, Wardiman mulai merasakan hidup yang berkualitas. Berdasarkan pengalamannya ini, Wardiman pun tak setuju dengan pendapat bahwa pensiun adalah waktunya untuk istirahat total.

”Jalani saja hidup dengan normal, tidur 7-8 delapan jam sehari dan tetap berkarya,” kata Wardiman, yang juga menekankan betapa pentingnya persiapan mental menjelang pensiun.

”Ternak ricu”

Faktor mental juga menjadi fokus Daryanto (61) menjelang pensiun sebagai Sekretaris Dirjen di Departemen Pertanian. ”Saya berprinsip hidup itu, kan, seperti roda yang berputar. Suatu saat pasti berhenti. Jadi, ketika pensiun, saya tidak kaget,” kata Daryanto, yang menyiapkan kader untuk meneruskan pekerjaannya sebelum pensiun pada Februari 2009.

Untuk mengisi waktu luang saat ini, Daryanto menjalankan bisnis kecil-kecilan yang dia bangun bersama teman-temannya. Daryanto mengatakan, motifnya berbisnis tidak semata-mata ekonomi karena dua dari tiga anaknya sudah mandiri. Lepas dari kesibukan kantor, Daryanto benar-benar menikmati hidup karena dia memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga. ”Sekarang pekerjaan saya ’ternak ricu’ alias anter anak, istri, dan cucu,” katanya sambil tertawa. Daryanto kini juga bisa merawat pohon buah-buahan dan tanaman bunga di halaman rumah, yang dulunya diurus orang lain. Latar belakang pendidikan sebagai sarjana pertanian Universitas Gadjah Mada tak hanya berpengaruh pada kesibukan ketika masih bekerja. Di saat pensiun, Daryanto menyumbangkan pemikirannya dengan memberikan konsultasi kepada pebisnis di bidang pertanian.

Berkarya setelah pensiun juga dilakukan Samiran (62), yang pernah bekerja sekitar 30 tahun di yayasan sosial Lembaga Daya Dharma. Meski kegiatan yang dilakukan saat ini berhubungan dengan pekerjaannya pada masa lalu, rencana yang dibuat Samiran sebelum pensiun justru berbeda.

”Semula, saya berencana dagang baju, dibantu istri saya yang suka menerima pesanan masakan atau kue,” cerita Samiran. Akan tetapi, rencana ini batal dilakukan karena Samiran tetap bergelut di bidang sosial yang terjadi tanpa disengaja. Ceritanya bermula ketika Samiran diminta menunda pensiun selama dua tahun. Permintaan dari kantor ini diikuti Samiran karena belum ada orang yang menggantikan posisinya sebagai manajer program. Sibuk dalam kegiatan sosial akhirnya berlanjut meski Samiran pensiun tahun 2004. Saat ini, dia membantu Australia and New Zealand Association (ANZA) untuk membuat program sosial, seperti mengadakan perbaikan gizi untuk anak-anak, memperbaiki sekolah rusak, dan membuat WC umum.

Beberapa gambar desain WC umum pun diperlihatkannya. Gambarnya sederhana, hanya gambar bangunan tampak samping, depan, dan atas. Namun, proses pembangunan ternyata tak sesederhana gambarnya. ”Saya harus sosialisasi pada masyarakat yang menjadi target karena belum tentu mereka mau menerima program dari kami. Itulah seninya dari pekerjaan ini,” kata Samiran yang gemar merawat tanaman di saat punya waktu luang. Saat merawat sirih hitam, jeruk limau, jambu air, belimbing wuluh, dan berbagai tanaman lainnya dalam pot, Samiran betah berlama-lama di halaman rumah, dari pagi sampai maghrib.

”Intinya, jangan menjadikan pensiun sebagai beban,” kata Samiran.

divider

Persiapkan sejak Usia 35 Tahun

Kompas, Minggu, 25 Oktober 2009 | 02:39 WIB
divider

Berbicara tentang masa pensiun berarti membicarakan orang-orang yang sudah masuk kategori lanjut usia. Untuk memahami berbagai masalah psikologis yang mungkin timbul pada mereka yang menjalani pensiun, perlu dipahami psikologi dari manusia yang memasuki tahapan lanjut usia ini. Demikian diungkapkan guru besar psikologi dari Universitas Indonesia, Prof Dr Fawzia Aswin Hadis, di Jakarta, Kamis (22/10). Pakar psikologi perkembangan ini mengatakan, tahap lanjut usia adalah tahap akhir dari perkembangan hidup seorang manusia.

”Berbeda dari psikologi perkembangan anak yang masih tumbuh dan berkembang, psikologi lansia sudah terbentuk berdasarkan akumulasi perilaku dan pengalaman hidup sebelumnya,” papar Fawzia.

Selain itu, kondisi fisik para lansia ini juga dipastikan sudah menurun dibandingkan saat mereka lebih muda. Kombinasi faktor psikologi dan kesehatan ini menjadi penentu saat mereka memasuki masa pensiun. Menurut Fawzia, beban paling berat seorang yang memasuki pensiun adalah berhentinya salah satu aktivitas rutin yang selama ini ia geluti. ”Pensiun pada dasarnya adalah penghentian suatu kegiatan. Sesuatu yang biasa dilakukan tiba-tiba berhenti. Kalau (kegiatan itu) tidak diganti dengan sesuatu yang baru, (yang bersangkutan) akan merasa sepi dan tidak berguna,” ungkap Fawzia.

Bertambah

Beban psikologis itu akan makin bertambah seiring dengan menurunnya penghasilan seorang pensiunan. Padahal, lanjut Fawzia, kaum lansia justru memiliki kebutuhan yang lebih besar dibanding dengan saat mereka lebih muda. ”Orang kebanyakan berpikir orang-orang tua itu sudah tidak memiliki kebutuhan, padahal, dengan kondisi kesehatan yang sudah menurun, kebutuhan mereka justru lebih besar, terutama untuk menjaga kesehatan itu,” kata Fawzia. Itu sebabnya, selain menyiapkan tabungan hari tua yang cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan tersebut, seorang yang memasuki masa pensiun diharapkan sudah menyiapkan aktivitas pengganti untuk menghabiskan waktu pensiunnya tersebut.

”Seorang yang akan pensiun harus mempersiapkan aktivitas, apakah itu menekuni hobi atau mencari kesibukan lain, yang penting tidak melelahkan,” tandas Fawzia.

Bahkan, psikolog Wahyu Indianti menyarankan agar persiapan masa pensiun sudah dilakukan sejak seseorang berada pada usia puncak produktivitasnya, yakni antara 35-50 tahun. ”Seseorang sudah harus mulai menginvestasikan dana atau menabung untuk masa pensiun,” tutur psikolog dari UI ini. Iin, panggilan akrab Wahyu, juga menyarankan agar para pensiunan bergabung atau membentuk komunitas beranggotakan orang-orang sebaya. Dengan begitu, mereka tetap punya kegiatan, berteman, dan bersosialisasi.

”Pensiunan tidak bisa mengharapkan anak-anaknya memerhatikan mereka terus, sebab anak-anak juga memiliki kehidupan dan kesibukannya sendiri,” ungkap Iin. (DHF/BSW)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: