ITU TEORI BUNG !

Jumat, tanggal 4 Desember 2009 lalu, di Mangga Dua Square, Jakarta, dikabarkan Metro TV, seorang pria tewas mengenaskan akibat jatuh dari lantai 6. Penulis tak hendak meneliti kebenaran berita bertalian dengan pernyataan “lantai 6” yang mungkin tegas tapi mengundang pertanyaan, yaitu siapakah yang mengetahui pria itu dari lantai 6, 5 atau 7 dst. Penulis hanya ingin menyampaikan suatu pandangan teknis yang bersifat teoritis, bahwa pria itu mungkin tidak mempercayai teori gravitasi. Teori atau hukum itu menyatakan bahwa “Benda yang mempunyai masa (bobot) akan jatuh – ditarik gaya gravitasi – ke bumi bila tidak ada yang menahannya”. Barangkali untuk membuktikan ketidak-percayaannya pada hukum atau teori itu, loncatlah dia dari suatu ketinggian, matilah dia. Oleh karenanya, bila anda bertemu dengan orang yang mengatakan “ Ah, itu teori “ atau “Kan itu teori ”, berhati-hatilah, sebab orang yang demikian itu, karena ketidakpercayaan atau ketidaktahuannya, biasanya tidak taat hukum dan cenderung berbahaya bagi dirinya, memberatkan keluarga atau  orang lain, kalau tidak memberatkan, itu namanya luck !, takdir saja yang membawanya pada kondisi itu.

Saya tidak mampu membayangkan bila suatu bangsa diisi oleh sekelompok orang yang tidak pernah mengenal teori atau hukum – ketatanegaraan, pemasaran, akuntansi, elektro, kimia, sipil dan lainnya – dapat berkontribusi dan menopang berkembangnya peradaban menjadi yang seperti kita nikmati sekarang. Alhamdulillah, di Indonesia, begitu banyak teori diajarkan dan dibangun, cobalah lihat jurusan di beberapa perguruan tinggi, semua mengajarkan teori, hukum alam, hukum sosial, budaya dst. Tanpa teori tak mungkin kita mampu menempatkan satelit komunikasi pada orbitnya dan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Tentu saja Satelit itu harus dibuat secara praktek sehingga berwujud dan berguna,  tapi tak mungkin satelit komunikasi itu diwujudkan tanpa dasar teori!.  Tanpa teori, mimpi pun tak akan pernah bahwa satelit itu digunakan untuk tujuan apa dan dirancang bagaimana.

Satu contoh lain, persoalan sederhana seperti keinginan untuk menaikkan penjualan saja, mengandungi teori strategi, siasat, taktik, pengelolaan risiko, dan sub persoalan seperti kebutuhan modal atau biaya tambahan, target pasar, luasan pasar, tambahan tenaga kerja, kendaraan, bahan baku dsb. Bagaimana seseorang mampu memecahkan persoalan peningkatan penjualan tanpa teori dan dukungan modal ? Walaupun ada juga orang yang mampu langsung praktek dan menaikkan penjualan, tanpa mengenal teori,  itu ya namanya diraih secara “kebetulan”,  mereka “Luck” – beruntung– dapat mengatasinya.

TEORI SEBAGIANNYA BERASAL DARI PRAKTEK
divider

Orang itu tadi sebenarnya tidak percaya teori atau hukum, karena ketidakmampuannya berpikir untuk memilah ketidakidealan dari “impurities” atau “contaminant” (pengganggu atau pencemar) terhadap kondisi ideal dimana teori tersebut dibangun. Contohnya, dia mungkin sukar mempercayai hukum gravitasi yang disebutkan tadi karena melihat balon dan pesawat terbang tidak jatuh kebumi. Apalagi melihat pemecahan persoalan dalam kehidupan nyata yang amat kompleks. Sulit mencari teori yang dikenalnya untuk dapat memecahkan persoalan hidupnya. Seperti banyak siswa SMU yang sulit mencari cara dan rumus yang tepat digunakan untuk memecahkan soal ujian fisika, misalnya. Salah memilih atau salah menggunakan rumus berakibat salah dan mendapat nilai jelek.

Pada dasarnya teori atau suatu hukum diciptakan manusia dari pengamatan atas serangkaian praktek, logika dan atau matematika yang disepakati keberlakuannya oleh para ahli di bidangnya. Teori ini membantu pemahaman kita terhadap suatu kondisi, terutama yang tak kasat mata. Contohnya: teori gravitasi dan hukum Newton pertama, betul-betul didasari oleh praktek, idealisasi kondisi lingkungan dan logika. Idealisasi kondisi lingkungan yang dimaksud dalam teori Newton adalah praktek percobaan dilakukan di bumi, pada ruang hampa udara dan di lantai licin sempurna, melebihi licinnya es. Sehingga hukum Newton yang berbunyi “ benda diam akan terus diam dan benda bergerak akan terus bergerak selamanya, pada kecepatan tetap, bila tidak ada gaya luar yang bekerja pada benda tersebut” dapat dibuktikan kesahihannya.

Teori elektromagnetik JC. Maxwell yang menggabungkan teori medan listrik dan medan magnetik, adalah hasil serangkaian praktek dan murni matematika. Di dalam teori ini hampir tidak ditemukan logika dan semula dinyatakan dengan 20 persamaan diferensial  dan 20 variabel!. Kini, setelah disederhanakan oleh Heaviside, dengan analisis vektor dan quaternions dinyatakan dengan hanya 4 persamaan diferensial saja.  Teori inilah yang membangun medan elektromagnetik sebagai gelombang sehingga melahirkan dan dasar dari ilmu kelistrikan dan telekomunikasi. Tentu saja teori yang ada di dalam matematika diperoleh dari hanya logika dan murni matematika.

Teori relativitas khusus Einstein dibangun pada th. 1905-an dengan dasar prinsip relativitas dan postulat (pernyataan yang dianggap benar) bahwa Cahaya di ruang hampa berjalan lurus, berkecepatan tetap dilihat dari manapun tanpa dipengaruhi kecepatan (bintang) sumbernya. Teori ini melulu berdasarkan logika dan matematika tanpa ada praktek atau percobaannya hingga sekarang, namun diyakini para ilmuwan di bidangnya. Dengan teori ini dapat dijelaskan bahwa “Waktu yang ditempuh oleh seorang yang diam dan bergerak, berbeda”. Teori ini mungkin dapat menjelaskan ayat (Q70:4) yang berbunyi “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” Dimana waktu seharinya malaikat yang bergerak menuju Tuhan mempunyai kesetaraan waktu 50 ribu tahun dari waktu yang kita jalani,  karena kita dianggap diam dibandingkan gerakan malaikat. Mengenai ini, Saya jadi ingat soal ujian masuk Perguruan Tinggi dulu. Sebagai catatan : kaum agamawan yang tidak mengerti bangunan teori ini menentangnya dengan logika yang lemah dan tidak masuk akal. Walaupun tentu saja teori ini tidak sekekal ayat Al Quran, yang membedakan adalah teori relativitas ini akan segera diganti dengan teori baru di masa yang akan datang bila dapat dibuktikan kesalahannya. Sebagaimana teori Newton pada fisika klasik yang digantikan oleh teori Einstein pada fisika modern.

TEORI SAJA TIDAK CUKUP
divider

Kalau dengan bekal teori atau hukum saja sudah dapat menyelesaikan berbagai macam persoalan yang menghadang jalan mencapai tujuan, tentunya banyak ilmuwan yang dapat membangun apa saja dengan berhasil. Kenyataannya tidak demikian. Teori saja tidak cukup, teori hanya sebagai dasar dan bekal. Dibutuhkan semangat penggerak yang membuat impian tercipta. Dibutuhkan pemodal dengan modal yang cukup dan pelaksana yang cerdas, berani dan tangguh mengantisipasi dan menghadapi tantangan atau risiko. Teori dan rumusannya, sekali lagi adalah bak hutan belantara, yang tidak mungkin dimiliki oleh satu orang, diperlukan kerjasama positip dari berbagai ahli di bidangnya sehingga mampu membuahkan keberhasilan mencapai tujuan. Ahli yang dimaksud adalah yang sudah terbukti mampu menyusun rumusan persamaan tersamar suatu persoalan dalam mengaplikasikan bidang keilmuannya, yang berisi teori-teori itu, pada dunia nyata. Dibutuhkan juga pemimpin dengan bekal teori yang cukup dan cerdas dengan kemampuan belajar cepat, memiliki antusias tinggi terhadap pencapaian tujuan dan pemecahan berbagai permasalahan.

Apakah cukup dengan seorang pemimpin yang bermodalkan teriakan tegas “Lakukan Segera, jangan tunda !” ?. Mimpi !,  ya, suatu teriakan konyol yang tidak mungkin dapat dilaksanakan atau dipraktekan. Praktek yang didasari keyakinan asal  jalan akan  memakan biaya tinggi dan berakhir dengan kerugian, penyesalan dan kesedihan. Nah.. masih percayakah anda pada orang yang mengatakan Itu Teori Bung !. Saya yakin, bila teori atau hukum tidak mendasari alur kerja dalam kehidupan ini, yang akan ada adalah hanya teriakan tak berguna. Bak suku di pedalaman yang tak mengenal pendidikan dan pengetahuan modern, pemimpin hanya dapat meneriakan yel-yel menyemangati rakyat untuk suatu arah yang kita ketahui terjadi dalam sejarah, ketegasan tak tentu arah, lawan !, pecat !, Serang !, Perang !, kita menang!  dan senadanya,  yaitu arah yang tidak mampu menyejahterakan rakyatnya.

Untuk itu, Terimakasih kepada Budi Rahardjo, seorang Dosen ITB, teman kuliahku dulu (EL-81), yang melontarkan status di fesbuknya, 29 November 2009, 18:57 ; “antara teori dan praktek, mana yang lebih penting?” dan mendapat banyak tanggapan. Bagi saya, untuk mencapai tujuan besar, teori atau hukum lebih penting, baru kemudian praktek untuk pelaksanaan pencapaiannya.

Dahroji, Cilegon, 6 Desember 2009

1 Komentar

  1. mbahnya said,

    06/12/2009 pada 08:24

    Belum sempat baca smuanya, puanjang sih.. ( Males mode – on ). Btw, sip bro, nice artikel
    Terimakasih : Paling tidak sudah baca judulnya kan.. : Dahroji


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: