Ikan Indonesia Kini Lebih Bernilai

Sebuah analisis waktu senggang

Membaca kondisi nilai tukar mata uang Indonesia (IDR) yang terus menguat ahir-ahir ini, secara diam-diam saya merasa ikut bergembira. Walaupun ini mungkin dirasakan berat bagi para eksportir dan “enak” bagi importir, industri pariwisata dan perijinan, saya melihatnya ini baik dari sisi pandang keseluruhan dan net manfaat bagi rakyat dan negara ini.  Mengapa ?

Pertama adalah penyeimbangan nilai ekspor dan impor, analisisnya mirip bagian marketing yang menetapkan kenaikan harga produk – hanya akibat biaya gaji naik dan beberapa harga bahan baku naik. Kenaikan harga dapat menyebabkan demand (permintaan) turun, dan hasil analisis data mereka menggunakan teori elastisitas pun, volume penjualan turun,  tapi mereka tetap menaikkan harga. Mengapa ? ya karena mereka tetap mendapatkan hasil lebih baik ketimbang tidak menaikkan harga, dimana hasil yang dicapai adalah nilai volume dikalikan harga satuan produk yang terjual.

Artinya, volume ekspor Indonesia bakal turun karena permintaan turun  –  baik karena efisiensi ataupun sikap menahan diri –  dari pembeli. Namun demikian, Penurunan volume demand ini tetap memberikan nilai total lebih kepada produsen, eksporter. Itu kuncinya !. Apalagi bila ada keajegan apresiasi nilai tukar, maka “image” dimata dunia pun meningkat dan para pembeli itu tidak akan lama dapat menahan diri, karena mereka sebenarnya tetap membutuhkannya. Seperti kita menahan kencing hanya karena belum menemukan toilet.

100-miliar seharga 3 telur ayam, tidak patut ditiru

100-miliar senilai 3 telur ayam, tidak patut ditiru.

Exportir dapat memandang ini sebagai resiko. Resiko ini akibat dari kondisi global bukan karena kesalahan exportir. Bagi importir luar negeri, untuk melakukan pengalihan kanal dagang atau pemasok, mereka akan membutuhkan biaya pengalihan signifikan juga, dan kenyataannya mereka dapat mengalihkan resiko nilai tukar ini, sehingga merekapun umumnya menerima kondisi ini dan meneruskan kerjasamanya dengan eksporter Indonesia. Apalagi bila eksportir melakukan langkah efisiensi, volume ekspor bakal tetap terjaga.

Bagi importer Indonesia, mereka umumnya bergembira karena dapat mengeluarkan IDR lebih sedikit untuk volume produk (solusi) yang sama. Karena kondisi ini, saya kira mereka ingin beramai-ramai mengimpor solusi luar negeri, walaupun tidaklah akan sederhana. Pendanaan untuk impor bagi mereka yang berspekulasi atau yang ujug-ujug, akan tertahan dengan sendirinya ketika mereka melihat dan merasakan begitu banyak kendala yang dihadapi, kecuali bagi mereka yang memang sudah ada pondasi jaringan bisnis dengan pihak luar negeri dan ingin meningkatkan volume perdagangannya secara ajeg.

Kedua adalah optimisasi nilai tukar idr. Ini akan lebih mudah dipahami bila dengan hitungan sederhana dan angka mudah diingat. Katakanlah awalnya nilai kurs dolar 10.000 idr. Ekspor suatu produk bervolume 50 dan impor 100. Nilai selisih perdagangan (100-50) x 10.000 =   500.000 idr, defisit. Kemudian secara bertahap pihak moneter Indonesia yang berwenang mengapresiasi nilai dolar menjadi hanya 5.000 idr. Apa yang terjadi ?, Eksporter “bergelimpangan”, volume jatuh sampai 30% sehingga hanya tersisa 35. Sementara importir “kegirangan”, volume impor naik 30%  menjadi 130. Nilai selisih perdagangan (130-35) x 5.000 idr = 475.000 , walaupun tetap defisit, nilainya turun. Teorinya, ketika tercapai suatu titik keseimbangan baru nilai perdagangan, selalu akan ada harga idr optimal yang dapat diterapkan. Dengan akuisisi data yang akurat, hasil pekerjaan optimasi dari apresiasi nilai tukar ini memberikan hasil yang cukup akurat dan imbalan positif.

Ke tiga adalah kehematan anggaran, seperti yang dikemukan pada kompas online, setiap kenaikan nilai idr 100 rph memberikan kehematan senilai 400 milyar. Artinya dari sisi pandang anggaran yang dibuat dengan idr dan asumsi  9.250 katakanlah aktualnya menjadi rata-rata 9.000  saja, terjadi kehematan senilai 1 trilyun untuk mendapatkan produk (solusi) impor. Apalagi bila net perdagangan komoditi migas adalah ekspor terutama rezeki dari permintaan gas jepang yang meningkat akibat resiko tsunami dan resistansi pengoperasian nuklir. Oleh karenanya marilah kita bantu negara Jepang dengan menarik nafas dan senyuman.

Keempat adalah azas kesetaraan, ikan di perairan Indonesia, sebutlah ikan tuna, dihargai rendah dimata dunia dengan berbagai alasan dan dengan yang bukan alasan, termasuk nilai tukar idr yang rendah.  Ikannya sama, kesulitan menangkap, teknologi dan kompetensi nelayannya sama, tapi hanya karena nilai tukar idr rendah, pembeli luar negeri memperoleh manfaat volume ikan yang lebih banyak ketimbang kalau mereka beli dari negara lain, korea misalnya. Akal sehat kita menyatakan, harusnya bernilai sama dong.

Betapapun, pro dan kontra, positif dan negatif dari kondisi nilai tukar saat ini pastilah terjadi, namun dengan ke empat alasan yang dikemukakan di atas itu, mudah-mudahan kita tidak perlu mendepresiasi atau meredenominasi secara “diskrit” atau membabi buta, tapi secara perlahan,  gradual dan keniscayaan kita bakal maju dengan lebih tegak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: